Menyikapi Perbedaan

Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya

~sayyidina Ali Bin Abi Thalib~

Yang terlintas dalam benak saya, ketika bertemu dengan seseorang yang memiliki Ilmu yang cukup luas, pengetahuan yang cukup matang, dan mendalam, tentunya sosok tersebut akan sangat merendah, bersahaja dan menyenangkan untuk diajak berdiskusi. Dan ternyata benar, ketika saya bertemu Uda Vizon, orangnya sangat ramah, murah senyum, dan seperti yang terlintas dalam benak saya, ternyata benar. Siang itu, perjalanannya dari Bekasi  setelah Kopdarnya dengan para Pinisepuh:mrgreen: ,menuju tempat pertemuan kami, di mesjid Al Azhar Pusat. Saya, Uda Vizon dan Mas Didot, berbincang santai di Warung Kaki Lima di Depan Mesjid Al Azhar. namun perbincangan santai itu, menyisakan banyak hikmah yang saya pelajari, Lain Uda Vizon lain saya,  yang menuliskan Inspirasi hikmahnya seperti ini setelah pertemuan dengan kami. Hari itu saya memetik sebuah makna perbedaan yang sempat kami bahas.

Perbedaan…dalam hal apapun, kadang selalu menjadi polemik, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Manusia sebagai anak keturunan Adam, Makhluk Ciptaan Allah yang diberikan kelebihan OlehNya dibandingkan dengan Makhluk Lainnya. Menjadikan manusia mampu menyikapi perbedaan dengan bijak, seharusnya…

Ibarat sebuah bangunan, yang dibangun dari berbagai macam bahan, yang membuatnya kokoh berdiri, satu sama lain saling melengkapi dan memperkuat sehingga menjadi sebuah bangunan yang utuh. Satu dengan yang lainnya fokus dengan fungsi dan kemampuan masing-masing. NAMUN, semuanya berlandaskan fondasi yang sama.

Dalam islam, Fondasi itu adalah Tauhid, yang Wajib kita yakini bahwa Allah adalah Satu, menyakini dan mengimani semua SifatNYA, Nama-namaNYa yang agung, menyakini semua penciptaanNYA. Dalam setiap Shalat kita, meng-Esa-kanNYA, bahwa tiada Tuhan Selain Allah. Berlandaskan Tauhid inilah, perbedaan yang ada, mampu disikapi dengan bijak, bahwa kita adalah setetes air dalam Samudera IlmuNYA, tidak layak kita menyombongkan diri, merasa menjadi yang paling berilmu dan merendahkan yang lainnya, yang sama-sama menempuh jalanNYA.

Merendahkan hati kepada sesama, semakin berisi semakin merunduk dan bersifat Tawadhu, sikap-sikap seperti ini yang seharusnya dikembangkan, dan tentunya akan lebih baik memeriksa kesalahan diri sendiri, daripada mencari-cari kekurangan orang lain. Paling tidak itulah hikmah yang saya ambil dalam perbincangan hari itu. Seperti yang Uda Vizon katakan saat itu, setiap kita mengucapkan salam setelah Sholat, maka kita mendoakan sesama ummat yang ada di samping kanan dan kiri kita, semoga selalu ada dalam Keselamatan, RahmatNYa dan BerkahNYA, maka jika dengan sadar kita melakukannya, dengan penuh keikhlasan, sudah selayaknya kita mampu menyikapi perbedaaan dengan bijak.

Karena jika seorang Muslim, menempuh JalanNYA, dan berupaya mengharapkan RidhoNYA dalam perjalanan hidupnya, Pasti akan mendapatkan petunjukNYA, selama itu menjalankan semua Perintah dan menjauhi semua LaranganNYA.

Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Comments
19 Responses to “Menyikapi Perbedaan”
  1. kawanlama95 mengatakan:

    aku hanya berusah mengisi hari dengan sebuah catatan yang mengores dengan kebaikan , semoga ,Namun ada saja hal yang membuat kita selalu terperosok. Semoga Allah selalu melindungi kita dari bahaya ke syirikan amien

    Atma : Insya allah Kebaikan akan menghapus Keburukan, dan Berpegang teguh kepadaNYA, senantiasa MengingatNYA, mudah2an salah satu jalan untuk Menghindarkan kita dari Dosa Syirik…

  2. alamendah mengatakan:

    (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Perbedaan dengan landasan yang sama menjadikan kehidupan menjadi begitu indahnya dan bermakna,

    Atma : Juga Kokoh…🙂

  3. sunarnosahlan mengatakan:

    dalam menyikapi perbedaan jika pada hal-hal yang bukan pokok, cabang-cabang amal, maka sikap yang saya ambil adalah sepakat untuk tidak sepakat, artinya masing-masing dengan cara yang diyakini masing-masing tanpa harus menyalahkan yang lain

    Atma : Betul kang…dengan cara masing2 dan tidak memaksakan juga sama yang lain…🙂

  4. didot mengatakan:

    betul sekali mas atma,nasehat uda itu kalau dipraktekkan mengandung makna yg mendalam,kemaren saya coba sempat merinding juga lho,karena mendoakan separuh bumi ini…

    islam adalah rahmatan lil alamin,takkan mampu islam mewadahi semua perbedaan jika tidak mampu menerima perbedaan sebagai berkah,sebagai anugerah. perbedaan memperkuat,bukan memperlemah

    Atma : Yup, bener mas, perbedaan seharusnya memperkuat, bukan saling melemahkan…menjalankan cara yang diyakini tanpa menyalanhkan yg lain seperti kang Narno bilang…
    btw, Perbedaan sama Pluralisme sama apa beda yah ?🙂

    semoga Allah memberikan petunjukNYA

    Atma : Amin Ya Rabb

  5. didot mengatakan:

    dan setuju,sosok uda yg boleh dibilang orang alim ini sangatlah jauh dari kesan sombong,semoga beliau istiqomah dalam mencari ilmu dan mengajarkannya,serta Allah menjaga beliau tetap tawadhu dalam kesehariannya,insya Allah,amin

    Atma : Amin ya rabb…

  6. darahbiroe mengatakan:

    bukankah dengan perbedaan kita malah semakin kaya
    hehe…
    semoga aku juga termasuk orang yang tidak sombong

  7. anna mengatakan:

    tergantung bagaimana melihat dan menyikapinya..
    terkadang kalo mo diliat negatifnya terus.. bisa2 perbedaan menyulut pertikaian.

    tapi kalo melihat dengan hati, dan positifnya.. pasti bis terbangun suatu hal yang indah. karena perbedaan adalah rahmat.

    seperti yg dicontohkan mas atma.. bangunan juga dibangun oleh berbagai macam bahan. kalo satu macam aja, mana bisa jadi bangunan.

    begitu mas atma… kayak blogger kalo semua seperti saya.. gak menarik to mas…hehe…

  8. Asop mengatakan:

    Iya, benar juga. Semakin berisi, hrusnya semakin merunduk. Semakin banyak ilmu seseorang, harusnya semakin rendah hati. Semoga saya bisa menjadi orang yang seperti ini. Amin.🙂

  9. bunda_ransi mengatakan:

    Dari perbedaan itulah timbul persamaan, tak akan ada kebersamaan tanpa perbedaan, semua saling mendukung dan membantu, ibarat yin dan yang, ada aku ada kamu, ada sakit ada sehat. Begitu pula perbedaan dan kebersamaan, semua berjalan sesuai “makhomnya”. Semoga semua perbedaan yang ada di negeri ini, berujung pada kebersamaan sejati sebagai umat manusia yang saling menghormati dan menyayangi. Semoga Allah selalu beserta kita, dan mengingatkan kita, amin

  10. Rindu mengatakan:

    iya, kita harus “Arif” menyikapi setiap perbedaan🙂 Arif itu artinya Bijaksana, bijaksana itu artinya memiliki cara berpikir yg baik dari diri sendiri ataupun hasil belajar dari orang lain, dan bisa diamalkan pada orang lain.

    Jadi orang bijaksana bisa membantu orang lain dg kebijaksanaannya (melalui saran dan petunjuk misalnya), sedangkan orang yg arif hanya bisa menjadi contoh/panutan utk ditiru, tapi orang arif sulit mengajari orang lain.

    Koq jadi ngebahas Arief sih nih Ade🙂 maksud saya menyikapi dengan Arief. Gitu kan mas? *duduk manis nunggu petuah spt biasa*

  11. Abu Ghalib mengatakan:

    terimakasih atas pertemanan dan inspirasinya selama ini
    dengan tidak mengurangi rasa hormat
    ijinkan saya untuk pamit dalam jangka waktu yg belum pasti
    semoga kita senantiasa diberikan rahmat dan karuniaNya
    dan semoga kelak kita berjumpa lagi, amin…

  12. Siti Fatimah Ahmad mengatakan:

    Assalaamu’alaikum Mas Atma

    Apa khabar ? lama tidak datang menjenguk sahabat yang baik di sana. Wah… rumahnya juga nampak baru dan elegent sekali, mas. Suasana kelam sudah semakin indah dan cerah bak mentari menyingkir kelam di pagi dini.

    mudahan kita semua bersyukur dengan segala kurniaan Allah dan tahu membezakan baik dan buruk sesuatu perkara agar tidak terjebak ke jalan yang menyakitkan hati dan minda.

    Salam mesra dari saya di Sarawak, Malaysia.

  13. bundadontworry mengatakan:

    Memang sudah sunatullah,Allah swt menciptakan segala sesuatu selalu berbeda, hanya utk menunjukkan KebesaranNYA.
    Manusialah yg sering menganggap dirinya lebih baik dan lebih bagus dr orang lain, astaghfirullah, semoga kita dijauhkan dr hal2 seperti itu.
    Salam

  14. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Mau menambahkan sedikit, seluas apapun ilmu yang dimiliki tiada arti di mata Allah kalau pengamalannya kurang, semoga sekecil ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita Amin
    Salam Takzim Batavusqu

  15. dasir mengatakan:

    hehehe, adanya perbedaan membuat kita belajar bhwa tidak semua orang sm dg kt, maka kt akn smkin bijak..salam

  16. nh18 mengatakan:

    Seperti yang sudah saya perkirakan …
    Pertemuan Kang Atma – Didot dan Uda … pasti akan sangat menarik.
    Saya yakin seyakin-yakinnya …
    Kalian bertiga itu mempunyai “chemistry” yang “nyucuk”

    Didot itu berbeda dengan Atma dan Uda
    Atam pun berbeda dari Uda dan Didot
    Dan saya tau Uda juga berbeda dari Atma dan Didot …

    Tetapi Sungguh perbedaan yang indah ,,,
    (sayang sekali waktu itu saya tidak bisa menemani Uda ikut ke Al Azhar ya )

    Salam saya
    dari salah satu … Pinisepuh … (hahahaha)

  17. vizon mengatakan:

    Mas Atma… maafkan, saya baru sempat berkunjung kali ini ke blog ini…

    #1, kebahagiaan saya bertemu dengan Mas Atma dan Didot sudah saya ungkapkan di blog. pertemuan itu sungguh bermakna, saya banyak belajar dari pengalaman mas Atma dan Didot…

    #2, Perbedaan dan Pluralisme adalah dua entitas yang serupa tapi tak sama. Perbedaan bisa terjadi di mana saja, termasuk di dalam agama yang sama. Penafsiran seorang muslim dengan muslim yang lain terhadap sebuah titah Allah, akan sangat berbeda, tergantung dari kedalaman ilmu dan kearifannya. Sementara pluralisme adalah sebuah kenyataan bahwa di hadapan kita ada banyak kepercayaan dan budaya yang terkadang sangat bertentangan dengan kepercayaan dan budaya kita. Perbedaan dan Pluralisme memang berbeda, tapi ia haruslah sama-sama disikapi dengan arif dan bijaksana. Hargai pemikirannya, namun tetaplah menjalankan apa yang kita yakini.

    #3, Marilah terus mencitrakan Islam yang damai, dengan meresapi hakikat dari ajaran-ajarannya..🙂

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. cicicow mengatakan:

    […] Menyikapi Perbedaan […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Yang lagi liat-liat

  • IBSN

    Indonesians’ Beautiful Sharing Network

%d blogger menyukai ini: