Tidak benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat melemahkan semangat hidup

Ini adalah pendapat saya dengan merujuk kepada apa yang saya yakini dan saya rasakan, mengenai tulisan Apakah Benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat akan melemahkan semangat hidup ?

(1). Dengan banyak mengingat Tuhan, manusia akan sulit berkembang dan bersinergi dengan kemajuan zaman yang semakin modern, dan terjebak dalam nilai-nilai transendental yang abstrak.

Semua Manusia dan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini, tidak ada dengan sendirinya, begitu pula dengan Alam Semesta ini. Logika manusia yang berlandaskan kepada akal pikiran semata, tidak akan sanggup menjangkau asal muasal dan penciptaan semuanya. Sebagai seorang Muslim, tentunya kita mengimani kepada Kitab-kitab yang yang telah diturunkan, dan Al-Qur’an adalah sebagai Kitab yang diturunkan untuk seluruh Umat Manusia sebagai Kitab terakhir hingga akhir zaman. Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai penciptaan Manusia :

S U R A T   Y U N U S

10:34. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?”

SURAT AS SAJDAH

32:4 “ Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. 32:4)”

S U R A T   F A T H I R

35:40. Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.  Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang lalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”.

Manusia sebetulnya bukannya Lupa akan keberadaan Tuhan, karena hati sanubari mereka, dan Ruh yang berada dalam jasad manusia akan mengakui bahwa Tuhan itu ada, hanya akal pikiran dan nafsu manusia belaka yang membuat mereka menjadi Lalai dan tidak mengakui akan adanya Tuhan.

Seiiring dengan perkembangan teknologi, manusia berupaya menyempitkan makna kekuasaan Tuhan, ketika Fenomena Alam berhasil di rekayasa dengan teknologi, ketika Gunung Meletus semakin bisa dideteksi oleh peralatan modern kapan akan meletus, beberapa pemahaman muncul bahwa ternyata Alam dapat ditaklukan oleh Teknologi, ini dipahami oleh sebagian orang dengan menyempitkan makna Kekuasaan Tuhan.

Mengingat Allah dalam kehidupan seorang muslim, adalah hal yang sebetulnya menjadi sebuah keharusan, mengingat bahwa kita diciptakan oleh-Nya. Dan sudah selayaknya sebagai makhluk ciptaan-Nya manusia wajib mentaati semuat aturan dan kehendak-Nya. Karena sehebat-hebatnya akal pikiran manusia, masih terlampau banyak Rahasia Allah dalam alam semesta ini yang belum dapat terpecahkan oleh kehebatan teknologi modern saat ini. Oleh karena itulah mereka (kaum orientalis/atheis) membuat istilah abstrak bagi Tuhan, karena mereka tidak mampu menjangkau Sifat-Nya. Dan bagi seorang muslim, larut dalam proses Ubudiyah dengan Sang Khalik, adalah bukan semata-mata karena kebuntuan menafsirkan rahasia alam semesta ini, tapi karena berangkat dari sebuah keyakinan yang timbul dalam hati dan ruh sebagai seorang makhluk Tuhan.

(2). Manusia yang mengikuti suatu ajaran agama, lalu ada indoktrinasi tentang mengingat sebuah kehidupan lain selain di dunia (bumi) ini, dan pada akhirnya manusia tersebut banyak mengingat peristiwa kematian, akan menjadikan manusia tersebut lemah dan kehilangan motivasi dalam hidup.

Kehidupan yang lain yang disebutkan mungkin adalah Kehidupan Akhirat, atau “Final Judgment day’s” menurut pendapat yang lain. Semua manusia mengakui bahwa kematian pasti akan tiba, lalu setelah seorang manusia mati, kemana dia pergi ? mungkin apabila dikumpulkan seluruh Ilmuwan di muka bumi ini, apabila mereka menggunakan akal pikiran atau logika semata, tidak akan menemukan jawabannya, jika pertanyaan itu diajukan kepada mereka.

Dalam al-Qur’an Allah Berfirman :

S U R A T   A L – A N ‘ A A M

6:2. Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

S U R A T   A L – A N F A A L

8:6. mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).

S U R A T   A L – H A J J

22:55. Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.

Mengapa kita Harus Mengingat Kehidupan Akhirat ?

Dalam Al Qur’an Allah Berfirman :

S U R A T   A L – I M R O N

3:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Kematian adalah sesuatu yang pasti, Kematian berarti berpisahnya Badan Manusia dengan Jiwa atau Ruh yang berada di dalamnya, ini berarti sejak awal penciptaan, Jiwa adalah sesuatau yang kekal yang akan kembali kepada pemilik Jiwa itu, yaitu Allah Swt. Sedangkan jasad manusia sifatnya fana. Dalam menyikapi inilah manusia kadang menghindarinya, atau lalai dalam mengingat kematian, padahal itu adalah sesuatu yang pasti, orang yang lebih cinta kepada dunia, tentunya akan menghindari pembicaraan tentang mati. Namun bagi manusia yang memahami bahwa Jiwa ini akan kembali ke negeri Akhirat, maka ia akan dengan sungguh-sungguh menjadikan Hidup di dunia sebagai Lahan untuk mencari bekal kelak di hari Akhirat nanti, karena sudah jelas, manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Dengan dasar itulah orang-orang yang menyadari itu, dengan kata lain orang-orang beriman, akan dengan sungguh-sungguh dalam beribadah, sehingga segala bentuk kegiatannya di muka bumi selagi mereka masih hidup, akan dilandaskan semata-mata karena beribadah kepada Allah Swt. Itu semua mereka lakukan semata-mata karena ingin kembali menemui Allah dalam keadaan yang di ridhoi-Nya.

Sehingga, segala bentuk aktifitas mereka di dunia, jika dibarengi dengan mengingat kehidupan Akhirat (kematian) secara signifikan akan membuat mereka termotivasi selama menjalaninya, akan berlaku Sidik, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Sehingga tidak ada lagi perbuatan atau kegiatan yang sia-sia selama menjalani peran hidup mereka, baik itu seorang pejabat, rakyat jelata, orang kaya maupun orang miskin. Dengan kata lain, selalu mengingat kehidupan Akhirat yang kekal abadi akan memotivasi mereka dalam hidup di dunia untuk mengikuti aturan Allah Swt, karena kelak semua yang dilakukan mereka di Dunia akan dipertanggungjawabkan kelak.

Pendapat yang mengatakan bahwa manusia akan kehilangan motivasi jika banyak mengingat kematian, jelas keliru. Itu adalah hanya upaya manusia untuk menghindari dari mengingat kematian saja.

Padahal Kematian bisa saja datang tiba-tiba kepada siapa saja di muka bumi ini, seperti yang sudah kita saksikan, yang mungkin terjadi kepada sanak saudara, teman, atau orang-orang disekitar kita. Saat waktu itu datang, apakah kita sudah siap ?

Lalu bagaimanakah kita akan bisa menguatkan hati ini untuk mengingat kematian dan negeri Akhirat yang kekal Abadi, jika kita lalai dalam mengingat Allah ?! karena mengingat Allah akan menumbuhkan rasa kecintaan kita untuk segera bertemu dengan-Nya. Bukankah Allah telah berfirman :

S U R A T   A L – I M R O N

3:191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Mengingat Allah jangan hanya dilakukan pada saat kita Shalat atau ibadah yang lainnya saja, atau pada saat kita ditimpa kesusahan. Karena kematian itu juga datangnya tanpa sepengetahuan kita, maka Ingatlah Allah dalam setiap Hembusan nafas kita, karena dalam setiap hembusan Nafas kita, terdapat kehendak Allah.

Subhanallah…

Comments
4 Responses to “Tidak benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat melemahkan semangat hidup”
  1. indahrephi mengatakan:

    jangan pernah lupa.. pada Dzat yang telah menciptakan kita, memberikan kehidupan kepada kita… jangan pernah lupa karena Allah sendiri tidak pernah lupa akan mahluk2Nya.. ^^

    @Indah…Insya Allah, Amin Allahuma Amin…
    Tks ya…

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] MANISNYA HAWA NAFSU ITU PAHIT Tidak benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat melemahkan semangat hidup […]

  2. […] lagi. Begitu juga diri kita, jangan sampai diri kita menjadi rusak, dan hanya akan menjadi yang “terbuang” di Negeri Akhirat yang abadi […]

  3. cicicow mengatakan:

    […] Tidak benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat melemahkan semangat hidup […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Yang lagi liat-liat

  • IBSN

    Indonesians’ Beautiful Sharing Network

%d blogger menyukai ini: