TAK (SE)INDAHNYA KEMATIAN “GIBRAN”…

INDAHNYA KEMATIAN
Biarkan aku terbaring dalam lelapku, kerana jiwa ini telah dirasuki cinta, dan biarkan daku istirahat, kerana batin ini memiliki segala kekayaan malam dan siang.
Nyalakan lilin-lilin dan bakarlah dupa nan mewangi di sekeliling ranjang ini, dan taburi tubuh ini dengan wangian melati serta mawar.
Minyakilah rambut ini dengan puspa dupa dan olesi kaki-kaki ini dengan wangian, dan bacalah isyarat kematian yang telah tertulis jelas di dahi ini.
Biarku istirahat di ranjang ini, kerana kedua bola mata ini telah teramat lelahnya;
Biar sajak-sajak bersalut perak bergetaran dan menyejukkan jiwaku;
Terbangkan dawai-dawai harpa dan singkapkan tabir lara hatiku.
Nyanyikanlah masa-masa lalu seperti engkau memandang fajar harapan dalam mataku, kerana makna ghaibnya begitu lembut bagai ranjang kapas tempat hatiku berbaring.
Hapuslah air matamu, saudaraku, dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga menyemai jari-jemarinya menyambut mahkota fajar pagi.
Lihatlah Kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya antara ranjangku dengan jarak infiniti;
Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah selamat tinggal buatku. Ciumlah mataku dengan seulas senyummu.
Biarkan anak-anak merentang tangan-tangan mungilnya buatku dengan kelembutan jemari merah jambu mereka;
Biarkanlah Masa meletakkan tangan lembutnya di dahiku dan memberkatiku;
Biarkanlah perawan-perawan mendekati dan melihat bayangan Tuhan dalam mataku, dan mendengar Gema Iradat-Nya berlarian dengan nafasku….
~ Kahlil Gibran ~

Saya tidak tahu persis apakah pada saat menulis puisi di atas, Kahlil Gibran dalam kondisi seperti yang digambarkannya dalam puisi tersebut…Tapi yang pasti Dia belum pernah mengalami “mati” pada saat puisi tersebut ditulis, atau bisa saja dia mendengar atau melihat kondisi seseorang yang akan “mati” seperti yang tergambar di atas. Kita tidak pernah tahu…
Dalam Ihya Ulumuddin, Al Ghazali menuturkan, Luqman al-Hakim berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau tidak tahu kapan maut mendatangimu. Persiapkan dirimu menyambutnya sebelum la tiba-tiba menyerangmu.” Hendaknya kita mengetahui bahwa hanya orang yang telah mengalami rasa pedih sakaratul mautlah yang mengetahui hakikat rasa sakit tersebut. Tetapi orang yang belum pernah merasainya hanya dapat mengetahuinya atas dasar dugaan atau menyaksikan sakit dan pedihnya orang lain saat sakaratul-maut.
DUGAAN. jasad yang tidak hidup atau yang tidak punya nyawa tidak memiliki rasa sakit dan tidak dapat merasai rasa sakit dan rasa-rasa lain. Hanya jasad yang bernyawalah yang dapat merasai rasa-rasa tersebut. Ini menunjukkan bahwa hanya nyawalah yang merasai rasa sakit. Ketika kehidupan (nyawa) itu dicabut dari setiap anggota tubuh, maka betapa hebat sekali rasa sakit yang akan dirasakan oleh tubuh. la tercabut dari setiap sendi, setiap otot, dan bahkan dari setiap akar rambut mulai dari kepala hingga kaki. Teriakan suara manusia kemudian terputus ketika rasa sakit dan nyeri mencapai puncaknya.

TAK (SE)INDAHNYA KEMATIAN “GIBRAN”…

1. Dalam satu riwayat, kejadian sesaat sebelum Rasulullah SAW dipanggil oleh-Nya…
Rasulullah berkata kepada Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

2. Nabi ‘Isa As berkata, “Wahai murid-¬muridku, berdoalah kepada Allah Azza wa jalla agar Dia berkenan memberimu kemudahan saat menghadapi sakaratul¬maut. Sungguh aku mengetahui betapa hebatnya rasa sakit saat sakaratul-maut.
3. Siti Aisyah Ra berkata, “Aku tak percaya bahwa rasa sakit saat ajal seseorang yang lain lebih ringan daripada rasa sakit saat kematian Rasulullah seperti yang ku¬saksikan.” Rasulullah Saw berdoa, “Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengambil nyawa dari ruas, sendi, tulang-belulang bahkan dari ujung jari. Ya Allah Tuhanku, mudahkanlah kematian itu untukku.” Beliau bersabda sesaat menjelang ajalnya, “Rasa sakit saat kematian datang ibarat ditetak dengan 300 mata pedang.
Pada suatu hari, beliau ditanya mengenai mati dan kesulitannya saat kematian. Beliau menjawab, “Seringan ¬ringan rasa sakit saat kematian sama dengan rasa sakit yang disebabkan oleh trisula besi yang dicabut setelah ditusukkan pada kedua bola mata.
Suatu ketika, Nabi Saw menjenguk seorang yang sakit lalu bersabda, “Aku tahu rasa sakit yang kauderita. Tidak ada urat yang tak merasakan rasa sakit saat kematian datang.”

4. Saat menjelang wafat Nabi Ibrahim As, Allah Ta’ala berfirman kepada beliau, “Wahai khalil-Ku, bagaimana engkau merasai mati?” Beliau menjawab, “seperti kait¬ besi panas yang berulangkali dimasukkan dan ditarik pada kain yang basah.” Allah Taala berfirman, “Sebenarnya Aku telah memudahkan kematian bagimu.
5. Dikisahkan mengenai Nabi Musa As bahwa ketika nyawanya dibawa ke hadapan Allah Azza wa Jalla, Dia bertanya kepada Musa, “Wahai Musa, apa yang kau¬rasakan ketika mati (sakaratul-maut)?” Jawab Musa As, “Aku rasakan hidupku laksana seekor pipit. Ketika ia dibakar (digoreng) di atas pembakaran (penggorengan), ia tak mampu terbang dan juga tak selamat dari rasa sakit saat mati. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa saat sakaratul-maut seperti yang dialaminya.

6. Ketika menjelang wafat, Abu Bakar Ra, Aisyah—putri Abu Bakar dan istri Nabi¬ datang kepadanya dan membacakan syair berikut:
Demi umurku, umur ini tak berarti kecuali mimpi Kekuatan harta tiada bermakna bila datang mati
Mendengar syair putrinya itu, Abu Bakar membuka mukanya seraya berkata, “Jangan katakan seperti itu, tapi katakanlah, ‘Dan datanglah sakaratul-maut dengan sebenar¬benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.’ (Qs Qaf [50]:19).

TIGA BENCANA KEMATIAN
Ada tiga bencana kematian. Bencana pertama adalah rasa sakit saat nyawa tercabut dari badan (naza‘). Bencana kedua adalah saat melihat sosok malaikat maut (pencabut nyawa) dan masuknya kengerian dan ketakutan ke dalam hari. Bencana ketiga saat sakaratul-maut yaitu ketika orang yang akan mati melihat bakal-tempatnya di Neraka atau di Sorga. Nyawanya tidak akan keluar dari tubuhnya sebelum la mendengar pemberitahuan dari malaikat tentang bakal-tempatnya di Sorga atau di Neraka. Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadis, “Tak seorang pun di antara kalian yang keluar dari dunia ini kecuali ia mengetahui tempat tujuannya dan melihat bakal tempatnya di Sorga atau di Neraka.” Beliau juga bersabda dalam sebuah hadis lainnya, “Barangsiapa suka bertemu dengan aku, maka Allah juga suka bertemu dengannya. Allah tidak ingin bertemu dengan orang yang tidak ingin bertemu denganku.”

CARA MENGINGATI MATI
Lebih lanjut Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Perbanyaklah mengingati mati karena mengingati mati dapat menghalangi dosa dan mendatangkan zuhud terhadap dunia.” Pada suatu hari, Rasulullah Saw keluar menuju ke masjid. Dalam perjalanan, beliau menjumpai beberapa orang yang terlibat dalam senda-gurau dan obrolan lepas kendali. Melihat hal seperti itu, beliau bersabda, “Ingatlah mati. Hati-hatilah, demi Dia yang hidupku berada di tangan¬Nya, seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.
Mati adalah sesuatu yang menakutkan, mengerikan. Dahsyat kejadiannya dan besar bencananya. Kebanyakan manusia lalai dan lengah terhadap mati karena mereka tidak menafakurinya. Adakala meng¬ingati mati pun, mereka tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Karena itu, ingat mati tidak memberikan pengaruh dan akibat yang berarti atas mereka. Cara mengingati mati yang benar yaitu membebaskan hati dari semua pikiran lainnya dan hanya ingat mati saja yang mendominasi pikiran dan hati. Hendaklah kita menjadi seperti orang yang tengah berada dalam per¬jalanan laut atau padang Sahara yang keras dan penuh bahaya, yaitu ketika pikiran tentang mati menyelimuti hati. Hasrat, kesenangan dan kesukaan pada dunia men¬jadi turun dan hati pun menjadi luluh.
Cara yang terbaik dan bermanfaat dalam bertafakur tentang mati yaitu mengingat kawan-kawan dan te¬tangga-tetangga yang telah meninggal dunia, bahwa mereka berada di dalam kuburnya di bawah tanah, dan membayangkan keadaan Berita wajah wajah mereka di dalam kubur. Bagaimana wajah cantik dan tampan mereka telah menjadi santapan racing dan serangga, istri dan anak mereka menjadi yatim dan terpuruk dalam kerms¬kinan, hari-hari mereka berlalu dengan penderitaan, kekayaan mereka telah lenyap. Kenanglah masing masing orang demi orang. Tafakurilah bagaimana kematian menyerang mereka secara tiba-tiba tanpa peringatan sedikit pun dan bagaimana ketidaksiapan mereka menghadapi kematian dan akhirat.

TAFAKUR KEPADA ALLAH
Tafakur, dengan banyak mengingat Allah dan bertasbih kepada-Nya seiring dengan setiap hembusan nafas kita, tujuannya adalah meningkatkan kejernihan, ketajaman akal pikiran perasaan dalam beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang sangat bermanfaat untuk mengingat Allah SWT, mulai dari sel yang terkecil, organ tubuh, dan seluruh tubuh secara lahir batin agar selamat dalam kehidupan dunia, dan akhirat yang kekal dan abadi. Mampu merobah pola dan pandangan manusia pada saat meniti dan menjalani kehidupan di dunia.
Seluruh tubuh selalu dibiasakan mengingat Allah, karena setiap tarikan nafas dengan disertai “Subhanallah”, akan membawa masuk hawa keTuhanan “Subhanallah” bersama oksigen, yang akan menyebar ke seluruh tubuh atau ke seluruh sel dan dipergunakan untuk berbagai fungsi metabolisme. Maka setiap sel di tubuh kita yang akan mengadakan metabolisme selalu menggunakan oksigen yang membawa “Subhanallah”.
Jadi, setiap sel di seluruh tubuh manusia dari sel yang terkecil pada saat melakukan fungsi sel/metabolisme selalu mengingat Allah dengan “Subhanallah” terlebih dahulu. Demikian pula dengan proses yang sama pada saat mengeluarkan nafas.

Sayidina Ali Kw, berkata
Bersiaplah menjemput mati, mati bagimu adalah pasti, janganlah kau takut mati, ketika hidupmu dihampiri.

Semua manusia akan mati dan menuju atau kembali ke kehidupan akhirat, maka bertafakur dengan cara bertasbih kepada Allah, mudah-mudahan, akan membuat kita,
1. Selamat ketika sakratul maut (akan mudah), sebab pada saat sakratul maut itu adalah saat dicabutnya nafas. Bilamana nafas kita sudah terbiasa dipenuhi dengan ‘Subhanallah’ maka ketika dicabut akan selalu mengucapkan ‘Subhanallah’
2. Selamat siksa kubur. Kalau setiap hari terbiasa diisi oleh ‘Subhanallah’ maka tubuh kita pun isinya adalah ‘Subhanallah’
3. Menghadapi api neraka. Haramlah tubuh dimakan api neraka jika tubuh dipenuhi ‘Subhanallah’

Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS Muhammad : 27)

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang diberi kemudahan oleh Allah SWT, dan senantiasa berada dalam Keridhaan-Nya.

Dalam QS A N – N A Z I ‘ A T , Allah SWT berfirman :

1. “Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,”

2. “dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut”

Sebuah pepatah mengatakan,
”Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.”

Wallahu’alam bi Showab…

Comments
10 Responses to “TAK (SE)INDAHNYA KEMATIAN “GIBRAN”…”
  1. kawanlama95 mengatakan:

    benar ga seeh bahwa khalil gibran sebelum kematiannya belum menjadi muslim

    atma : wah kalau itu saya gak tahu, tapi dari puisi2nya sih, lebih kepada pemahaman “makrifat” nya islam, tp sebagai org Arab(lebanon) yg besar di Amerika, filosofinya dalem dan tidak mencerminkan sebagai sastrawan barat…

  2. cantigi mengatakan:

    saya akui, filosofi2 Kahlil Gibran memang luar biasa..
    eh bro, mau treking bareng? one day treking aja, hunting foto, wawancara ringan. ramadhan ini libur dulu tapi (3 artikel treking siap publish). setelah itu ada rencana mau ke kawah putih, ranca upas (lagi), cimanggu, ranca bali, gn. puntang, bdg selatan dan sekitarnya deh. pake motor aja kayaknya biar ga kena macet.. ^_^

    atma : iya kang, dalem filosofinya Kahlil gibran…

  3. indra1082 mengatakan:

    Mati itu indah bagi yang sudah siap…
    Tapi apakah kita sudah siap??

    Salam KBM…………..

  4. bluethunderheart mengatakan:

    blue senang ngebacanya dan ini benar benar dibaca lho………….

    lho akang cantigi mau jalan jalan lagi? mau dong kang hehehhe…….
    salam hangat selalu

    atma: Amin, mudah2an bermanfaat

  5. indra1082 mengatakan:

    Mati itu indah jika sudah siap….🙂

    Salam KBM

    atma : mati itu sebuah kepastian yang kita tak kan bisa lari darinya…persiapan yang konkret adalah dengan menumpuk amal sholeh memohon kehendak-Nya…trmksh sdh silaturahmi

  6. Mas Kopdang mengatakan:

    menarik!
    renyah bo..😛

    atma : trmksh sdh silaturahmi

  7. KangBoed mengatakan:

    Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    atma : Amien…terimkasih sudah berkunjung

  8. Viby chin mengatakan:

    Sesunguh Y mati adalah sesuatu yang mengiringi kita…
    tergantung bagaimana kita menanggapi kematian itu,,,,
    apakah kita Suidah siap apa Belum………

    @Viby…Mati adalah kepastian, kehidupan adalah sarana kita menyiapkan kematian itu…

  9. samsul mengatakan:

    KEMATIAN SELALU ADA,BAGI ORANG YANG TELAH PASRA PADA APA YANG DI BAGI

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. cicicow mengatakan:

    […] TAK (SE)INDAHNYA KEMATIAN “GIBRAN”… […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Yang lagi liat-liat

  • IBSN

    Indonesians’ Beautiful Sharing Network

%d blogger menyukai ini: