Ghazwul Fikri

Tulisan ini hanya sebuah opini, tidak ada konsep yang saya buat ketika akan menulis, hanya ketika terlintas saya langsung menulis dan kebetulan sedang online juga, oleh karena itu mungkin tidak akan ditemukan banyak dalil atau dasar refensi penulisan.

Tulisan Pertama yang  Go Public

Dulu ketika masih kuliah (😀 pernah kuliah juga), saya diminta menulis di majalah dinding mushola kampus, karena kebagian jatah untuk menulis, saya kemudian mencari-cari ide untuk menulis apa, terlintaslah sebuah kalimat “Ghazwul Fikri” dimana pada waktu SMA saya pernah membahasnya dengan beberapa teman menanggapi tulisan sebuah majalah saat itu.

Walaupun tulisannya hanya dimuat di Mading, dan masa tayangnya juga satu minggu, tapi itu mungkin pertama kalinya tulisan saya di muat di sebuah media😀 hehe,  saat itu tidak ada hits counter yang bisa mendeteksi berapa banyak orang yang membaca tulisan itu, juga tidak ada kolom untuk mengomentari tulisan tersebut, lebih jauh lagi, tak ada pembahasan lebih lanjut atau sebuah forum yang menelaah lebih jauh tulisan itu (kasian ya yang nulis). Budaya menulis saat itu juga sedang ngetrend, kebanyakan teman-teman kampus yang hobi menulis mengirimkan tulisannya ke media cetak yang ternama seperti kompas, republika, kedaulatan rakyat dll. selain ada prestise tersendiri tulisan kita dimuat di harian ternama, untuk mahasiswa yang cari penghasilan tambahan, itu menjadi income yang menjanjikan, karena ketika tulisan kita dimuat, ada kompensasi rupiah yang diberikan penerbit kepada kita. saat itu belum ada Blog yang bisa menjadi sarana pemberontakan kaum penulis terhadap hegemoni media cetak yang membatasi ruang menulis dan berpendapat.

Senang juga tulisan kita di muat, sebagai obat kekecewaan juga, karena saat itu saya dengan beberapa teman sedang ada proyek menulis sebuah buku yang berjudul “Masyarakat Madani”, namun tak kunjung terbit, karena krisis finansial kita-kita, padahal buku tersebut memuat tulisan-tulisan dari beberapa tokoh nasional saat itu yang kita wawancarai, seperti Amien rais, Romo Mangun, Kuntowijoyo,  Cak Nur, Cak Nun, Frans Magnis, dawam Rahardjo, dll. Sampai hari ini tidak jelas keberadaan script dari buku tersebut, hiks…

Perang Pemikiran

Masih hangat dalam benak kita krisis Gaza, sebuah tragedi kemanusiaan yang menghenyakkan jiwa kita, perlawanan pun dikobarkan dimana-mana di seluruh dunia, perlaanan tidak terjadi hanya di Palestina, tapi di seluruh Dunia, semua melawan ! tentu saja dengan kapsitas masing-masing, ada yang demo, ada yang boikot produk israel dan kroninya, ada yang memutuskan hubungan diplomatik, ada yang menghacking situs-situs milik orang zionis, banyak sekali bentuk perlawanan, dan pasti ada juga perlawanan dalam bentuk doa, walaupun “ghaib”, tapi saya yakin untuk saat ini bentuk perlawanan dengan doa ini paling ampuh, karena pada akhirnya serangan dihentikan, hanya kuasa Allah lah yang mampu melakukan itu semua, dan itu pasti jawaban Allah dari doa orang-orang yang peduli dengan Palestina.

Tidak dapat kita sangkal, apabila sebuah perang terjadi, maka akan muncul sebuah pelawanan, apa sebab ? panjang kalo dibahas disini ( hehe😀 ), kalau saja ada yang mendokumentasikan berapa kali perang sudah terjadi sejak Adam dan Hawa diturunkan, berapa banyak korban sudah berjatuhan sejak Habil dan Qabil bertikai, pasti akan banyak sekali, dari mulai perang dunia yang dicatat oleh sejarah, sampai dengan perang-perang kecil antar suku, antar agama, antar gang dan antar kampung (kalau di indonesia), itu pernah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu.

Bagaimana dengan Perang Pemikiran ? hemf…kayaknya perlawanan untuk perang ini  saya perlu masukan wacana dari para pembaca nih seiring dengan perkembangan jaman akhir-akhir ini. tapi apa sih Perang pemikiran tuh ? seperti apa ? sedikit pemahaman saya menyimpulkan pada saat Dunia ini sudah terbagi menjadi beberapa Blok negara adidaya dan negara “underdog”,  setelah bertrilyun-trilyun dana dikucurkan untuk berperang “at battlefield”, mulailah dipikirkan formula baru untuk berperang, bukan dengan infiltrasi atau perang spionase saja, tapi cara baru yang saat itu (mungkin) terpikirkan adalah menghancurkan sebuah generasi, wow ga salah tuh ?  jadi apa perang pemikiran tuh ? ya sejenis versi lain dari cara berperang, pemikiran dapat diartikan luas sekali dalam hal ini (mungkin perlu  ada bahasan khusus kali ya), namun intinya tetap sama, bermuara kepada sebuah bentuk intervensi, dominasi atau bentuk penjajahan atau imperilasime baru dari sebuah ideologi atau suatu negara terhadap negara lain, titik. ini menurut versi saya lho.

Apa Saja Bentuknya? Melalui apa ini terjadi ?

Dalam pandangan saya, ada banyak bentuk perang jenis ini, mulai dari perselisihan opini atau perbedaan pendapat dikalangan politikus salah satunya, saya masih ingat pernah membaca sebuah buku (saya lupa judulnya) namun buku itu adalah kumpulan dari tulisan beberapa tokoh Nasional yang dimuat di sebuah harian Nasional yang diterbitkan dalam beberapa hari samapai akhirnya perdebatan itu dihentikan atau ditengahi oleh Emha ainun Nadjib, dalam buku itu jelas sekali adanya kengototan beberapa pihak untuk mengcounter tulisan Prof. DR. Arif Budiman yang berpendapat tentang Agama, memang sih agak keterlaluan kalau menurut saya, karena menurut beliau (saat itu) bahwa semakin modern dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka agama menjadi tidak dibutuhkan lagi, begitu katanya. Media cetak dan Buku tersebut jelas menjadi sebuah media dalam memfasilitasi dalam berperang dan mempertahankan pendapat masing-masing, itu baru satu contoh saja dalam konteks nasional. Dalam konteks global tentunya akan ada banyak pihak dan kepentingan yang terlibat, ada nilai-nilai kapitalisme, sosialis, agamis atau ideologi transendental yang terlibat, ada sebuah negara juga yang ingin hegemoninya mendapatkan pengakuan, juga Ilmuwan dengan ilmu pengetahuannya, mungkin juga Bloger dengan berbagai macam opininya. Dalam konteks global inilah akan melibatkan media sebagai salah satu alat yang paling efektif untuk berperang. ada banyak media tentunya, mulai dari media cetak, televisi, juga jagat maya yang saat ini sedang ngetrend.

Apa Buktinya ?

Melihat sejarah, Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah salah satu bukti dari upaya Penjajah untuk melakukan upaya lain dalam meredam perang di Aceh, menurut saya sih ini juga sebuah perang pemikiran juga, dimana adanya infiltrasi terhadap pemahaman budaya dan ideologi masyarakat Aceh, telah menjadi landasan buat Penjajah untuk memecah belah.

Bicara mengenai pembuktian juga, degradasi moral saat ini dikalangan generasi muda bisa kita jadikan sebagai salah satu bukti adanya perang pemikiran ini, gaya hidup yang hedonis, ikut trend saat ini, dengan dalih biar gak ketinggalan jaman. Ujung-ujungnya semua itu jadi menjelma sebagai sebuah “Kejahiliyahan Modern” walaupun konsep Jahiliyah menurut saya sama saja dulu dan sekarang. Kira-kira begitu, tadinya ingin bersikap modern, ternyata malah “kemunduran” yang muncul.

Imperialisme Baru ?

Percaya atau tidak, saat ini Indonesia sedang dijajah oleh banyak negara, ada Amerika, Malaysia, Jepang, China dll. Bukan hanya karena banyaknya produk-produk tersebut yang dikonsumsi oleh sebagian masyarakat kita, “Perang Pemikiran” penyerangannya lebih dititikberatkan kepada Mental dan sikap, mungkin moral juga. Amerika contohnya, lihat saja dulu ketika film “Ghost” sedang booming, maka dalam waktu singkat banyak abg, ibu-bu juga (mungkin) pada saat itu yang potongan rambutnya mirip Demi moore, tokoh dalam film itu, atau sekarang kalu kita lihat dijalanan, ada komunitas anak Punk, yang notabene merupakan genk anti kemapanan dari barat sono. Teman saya di jogja punya anak yang jadi “nge-punk”, jarang pulang, ngamen dijalanan (dalihnya pengen mandiri) padahal uang jajannya ga kurang, minuman keras dan narkotika jadi familiar dengan anaknya, pakaiannya, hemff jangan tanya, gak ada yang bener tuh baju. Seks Party, kayaknya yang itu pernah marak di ibukota ya, Pesta narkoba, kita sering liat ditelevisi banyak yang digrebek, Diskotik makin marak (ampun DJ…) dimana-mana, didaerah pinggiran diadopsi menjadi warung remang-remang (halah bener ga sih😀 ), Kawin cerai gaya artis ? ah abaikan saja yang ini, Nongrong di mall, kongkow-kongkow di coffe shop hingga melupakan waktu sholat, yang ini asyik juga, saya pernah sih hot spotan di coffee shop, Nonton sinetron atau kartun menjelang maghrib, ini dia yang bikin keponakan saya males ngaji.

Hal diatas tentu saja bukan menjadi sebuah karakter mutlak Ghazwul Fikri telah merasuki kita.

Yang Jelas adalah ketika sebuah Ideologi atau budaya dari luar nilai-nilai aqidah islam yang kita adopsi lalu fikiran kita menjadi sangat terpengaruh, bahkan memonopoli akhlak serta sikap kita juga  menggeser nilai-nilai aqidah kita, maka disitulah Ghazwul Fikri telah mengalahkan kita

Mungkin dalam implementasinya, banyak sekali terjadi dalam kehidupan kita, dan setiap orang akan merasakannya berbeda-beda tergantung sikap dan keyakinan masing-masing. sementara saya sendiri tidak akan cukup menuliskannya disini, mungkin teman-teman bisa tambahkan.

Hanya satu kata : LAWAN !!!

Lo beli gua jual, begitu kira-kira kalo kata jawara Betawi. setiap ada perang pasti ada perlawanan, perang pemikiran ini sudah terjadi selama berabad-abad, banyak sudah pihak terlibat, korban sudah berjatuhan, kerugian takkan ternilai lagi harganya, ketika saudara-saudara kita terjebak gaya hidup hedonis, ketika kita cemas dan was-was bagaimana pergaulan anak-anak kita nanti, ketika rasa takut ini menjadi semakin dzhohir, maka kita harus LAWAN !!! semangat betul sih…, iya memang kita harus semangat dalam hal ini, karena kita sudah ada didalamnya, karena kita sudah terlibat, saat membaca sebuah komik jepang, saat kita sedang berinternet ria, saat kita sedang asyik berbicara mengenai trend-ternd terbaru, tanpa sadar kita sudah ada di medan peperangan. Namun entah sadar atau tidak, sebenarnya perlawanan itu sudah muncul juga dari dulu, tanpa sadar saat kita bersyiar lewat syair di blog pun, sudah merupakan bentuk perlawanan, ada banyak cara untuk melawan, hanya saja bagaimana kita bisa mengenali perang ini dalam diri dan lingkungan kita ? sering-seringlah berMuroqobah, atau introspeksi diri, bertafakur kepada Allah sebagai yang Maha Pelindung. Karena DAMPAK dari Perang ini jauh lebih DAHSYAT daripada perang di GAZA yang baru saja kita lihat, saat hari ini kita kalah perang (ini), maka besok kita semakin akan terseret, saat satu generasi sudah terseret, maka jangan harap kita menjadi bangsa yang besar, yang ada hanya perpecahan, sikap apatis dari generasi muda, saling menjatuhkan, hilangnya empati dan rasa kemanusiaan. Buanyak sekali dampaknya, dan luar biasa mengerikan bagi saya, dengan apa kita bisa melawan ? banyak cara, salah satunya dengan menulis ini, salah satu dari sekian banyak cara. Cara lain nanti kita pikirkan bareng2 ya, saya buru-buru mau jum’atan neh. Namun satu hal yang pasti, dengan MENGINGAT ALLAH sudah pasti kita akan terbentengi dari perang tersebut. Seperti kata kang A Gym, Mulailah dari hal kecil, mulai dari diri kita, mulailah dari hati kita, mulailah saat ini (aduh saya lupa urutannya), namun yang pasti menurut saya, ketika hati melawan (selemah-lemahnya iman) maka itu adalah fondasi dari benteng yang akan kita bangun.

Mari kita MENGINGAT ALLAH...

Comments
7 Responses to “Ghazwul Fikri”
  1. kidungjingga mengatakan:

    nice post… ^_^

    atma Says :
    Makasih atas kunjungannya…

  2. sarahtidaksendiri mengatakan:

    nice post…
    aQ jg semakin bingung dengan alur kehidupan yg ada sekarang, bukannya makin baik malah jd rumit…dan kata2 ‘menghancurkan generasi’ itu sprtnya mmg bener…
    aQ brhpr semoga kedepannya, bangsa ini tidak kian terpuruk
    amin…
    mksh y udah mampri k blogQ
    salam kena;

    atma says :
    terimakasih atas kunjungannya, mudah2an memang bangsa ini akan menjadi lebih baik lagi generasi kedepannya

  3. hmcahyo mengatakan:

    silaturahimmm mas… biar panjang umur dan rezekinya lancar😀

  4. hmcahyo mengatakan:

    lama gak updet neh?

  5. atmakusumah mengatakan:

    Iya Mas, udah hampir 2 bulan ini saya ada disatu tempat yang susah mau akses internet…kalo modal HP Bad Signal agak repot juga, padahal kangen banget pengen nulis lagi, mudah2an minggu2 ini bisa update dan blogwalking lagi, saya baru tahu Sassie sudah gak ada juga baru kemarin…maksih mas ya masih mau nengokin..

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] terhadapa aqidah dan keyakinan kita justru datangnya tidak terasa oleh kita, dengan adanya Ghazwul Fikri, yang secara lambat laun menggeser iman dan islam kita, keteguhan dan kesabaran yang kita hadapi […]

  2. cicicow mengatakan:

    […] Ghazwul Fikri […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Yang lagi liat-liat

  • IBSN

    Indonesians’ Beautiful Sharing Network

%d blogger menyukai ini: