Menjadi Jiwa Yang Dewasa…
“Sesungguhnya alam dapat memberikan kecukupan hanya dari segi jasmaniahmu, dan tidak memuaskan kamu dalam segi rohaniahmu.” (Ibnu Atha’illah)
Jiwa Anak Kecil
Siang tadi, melihat seorang anak kecil yang sedang menangis dipinggir jalan, meronta-ronta karena keinginannya tidak dipenuhi oleh Ibunya, anak kecil itu berusaha dibujuk oleh sang Ibu, dari mulai bujukan halus si Ibu, sampai sikap kesal si Ibu terhadap anaknya yang makin menjadi tangisnya. Sepertinya anak tersebut tidak peduli dengan sikap ibunya yang agak kikuk karena banyaknya orang yang siang itu memperhatikan tingkah anaknya. Salah satu sikap dan perilaku anak kecil yang sebetulnya seringkali saya jumpai, kebetulan juga pernah saya menonton acara “Nanny 911″ di metro TV, dalam beberapa kali tayangan saya melihat begitu banyak macam sikap anak-anak yang membuat orang tuanya terkadang sedikit frustasi. Ada Ibu yang terlihat dengan rambut yang kusut, rumah yang berantakan, anak-anaknya yang berlari kesana kemari tanpa mau diatur. Kadangkala, melihat tingkah anak kecil yang seperti itu, saya suka flashback mengingat kembali, apakah ketika kecil saya seperti itukah ?
Anak kecil, ibarat lembaran kertas putih, inilah yang menjadikan kepolosannya merupakan sifat yang ada dalam setiap jiwa anak kecil, sehingga peran besar Orang Tua dalam mendidiknya, turut menentukan dalam perjalanan hidupnya kelak. Dalam lembaran kertas Putih itulah, kita juga bisa menemukan tulisan Maha Pencipta, yang diberikan kepada Jiwa Anak kecil. Senyuman yang tulus, “memiliki keinginan tahuan” yang tinggi yang diungkapkannya dengan banyak bertanya tentang hal-hal yang baru ditemuinya, kejujuran, Menangis ketika terluka atau terjatuh dan berusaha bangkit kembali, mencoba hal-hal yang baru. Namun juga tidak jarang saya temui, beberapa sifat anak kecil, yang Menangis dalam memaksakan keinginannya, berebut mainan, egois dan tidak mau mengalah dengan teman sepermainannya, kadang juga kasar, tapi ada yang lembut juga, mencoba hal-hal baru tanpa memperhitungkan resikonya. Banyak sekali yang bisa diamati dari anak kecil, setidaknya itu yang saya lihat kalau sedang kumpul dengan keponakan2 saya yang lucu…
.
Jiwa dan Raga, Kembar yang Terlahir kebumi
Tubuh kita mengalami proses pertumbuhan dari waktu ke waktu, begitu juga akal dan pikiran kita, namun tidak selalu demikian dengan Jiwa Kita. Manusia yang terlahir kedunia ini, sebelumnya sudah ditiupkan Ruh oleh Allah ketika dalam Rahim Ibunya, Ruh atau Jiwa yang ada dalam tubuh manusia inilah yang kemudian mengiringi perjalanan jasad manusia hingga akhirnya berpulang lagi ke tempat asalanya, yaitu negeri akhirat.
Secara sederhana saya memahami, bahwa kedatangannya dimuka bumi, jiwa dan jasad seperti dua orang anak kembar, memasuki alam yang sama sekali belum pernah mereka injak sebelumnya. Dan dalam proses perjalanannya inilah, terkadang kita lupa, bahwa keduanya juga memerlukan pertumbuhan. Jasad kita manusia, tumbuh untuk menjalani aktifitas selama di muka bumi, ia akan rusak ketika tanah sudah menguburnya, sedangkan jiwa yang berada didalamnya, ia justru akan memulai kehidupan yang baru yang abadi di negeri akhirat. Tentunya keduanya harus dipersiapkan sejak awal kelahirannya, hingga maut menjemput.
Agar Jasad atau tubuh kita tumbuh dewasa, asupan makanan yang telah disediakan oleh Allah dimuka bumi ini, adalah modal baginya untuk terus tumbuh kembang menjadi manuisa yang sempurna secara fisik. lalu apa makanan bagi jiwa agar ia juga tumbuh dewasa ?
Dalam sebuah majelis, saya pernah mendapatkan penjelasan tentang tiga jenis makanan yang masuk kedalam tubuh manusia.
- Makanana melalui mulut, dengan alat pencernaan, makanannya ada dan jelas terlihat, juga dapat dibuktikan dengan organ pencernaan yang ada dalam tubuh manusia
- Makanan melalui hidung, denagan sistem pernafasan, makanannya berupa udara atau oksigen, ada tidak terlihat, tetapi dapat dibuktikan, melalui alat organ pernafasan pada tubuh manusia
- Makanan melalui sistem spiritual atau keagamaan, makanannya adalah Ibadah kepada Allah Swt, Iman, Dzikrullah, Taqarraub serta akhlak mulia yang meliputi hiasan rohani bagi manusia.
Tiga hal tersebut sebetulnya menjadikan jelas, bagi kita dalam berpikir untuk memilih mana yang sementara dan mana yang abadi. sehingga tidak ada lagi kebimbangan dalam diri, untuk tidak lagi mengabaikan makanan bagi jiwa.
Karena juga, dalam perjalanan hidup, kita akan senantiasa mengahadapi ujian dan masalah yang akan terjadi sepanjang kita masih bernafas. Adakalanya, jika jiwa kita tidak dewasa, maka muncullah sifat anak kecil dalam diri kita ketika menyikapi ujian atau masalah yang menimpa kita. Ketika diuji dengan kehilangan, baik materi, orang yang kita sayangi, maka sulit bagi kita untuk bersikap Ikhlash dan Sabar. Diuji dengan sakit, dan kesulitan, akan muncul keluh kesah, ketika diuji dengan kenikmatan, kita akan lupa bersyukur kepadaNYA. Banyak sekali contoh, yang saya alami, atau saya amati dalam kehidupan ini, Jiwa yang tidak dewasa akan kesulitan dalam menghadapi kejadian-kejadian tersebut. Ada sifat atau jiwa anak kecil yang memang perlu juga kita pelihara hingga dewasa, namun ada juga yang harus kita sesuaikan dengan perkembangan Raga kita sebagai manusia dewasa, Jika tidak seimbang antara jiwa dan Raga, maka yang terjadi, ibarat anak kecil menghadapi permasalahan orang dewasa, karena tentunya, semakin tinggi derajat ketakwaan kita, maka semakin tiggi pula ujian yang diberikan oleh Allah kepada HambaNYA.
Sebagai bahan renungan bagi saya juga, ketika saat ini dengan kondisi fisik yang sudah tua dewasa, bagaimana keseimbangan makanan jiwa yang sudah ada dalam diri ini, jika kita hidup sudah puluhan tahun, dalam sehari kita membagi jelas waktu makan bagi Jasad/fisik kita agar selalu sehat dan bugar, lalu bagi JIWA ? seimbangkah ? sementara Fisik akan kita tinggalkan bersama bumi yang hancur, dan jiwa akan kembali ke negeri akhirat untuk hidup abadi.
Laa Ilaaha Illaahu Subahaanasy Syaafil Kaafii…


(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Tidak hanya tubuh yang membutuhkan perkembangan untuk menjadi dewasa, jiwa juga membutuhkannya.
Subhanallah, Mas Atma.
Renungan yg dalam sekali dr seorang hamba yang sholeh.
Makanan jiwa yg senantiasa kita perlukan, agar arif dlm bertindak dan bertingkah laku sesuai dgn kaidah.
Semoga Allah swt selalu menganugerahkan rahmat dan berkah ridhaNYA pada kita,amin.
Terimakasih utk tulisan yg sangat menyentuh langsung ke nurani.
salam.
Mata indahnya mengingatkan saya akan “Maliq”, seorang anak lelaki yang selalu bayangannya selalu berlari di benak saya, ya ALLAH beri saya waktu lebih agar saya bisa memiliki jiwa kecil yang dewasa … amin ya Rabb
http://rinduku.wordpress.com/2009/07/08/maliq-dan-mimpi-saya/
Yang kembali adalah jiwa, memang keseimbangan nutrisi jiwa haruslah terpenuhi. Karena kita akan kembali pada yang maha suci, tentu harus berangkat dengan jiwa yang suci pula
Assalamu’alaikum,
Jiwa yang dewasa, juga harus disertai dengan kedewasaan iman kita kepada Allah, karena kalau keimanan kita masih labil, kita akan mudah goyah dalam menghadapi badai ujian yg datang menerpa kita. Tulisan yang bagus Pak. (Dewi Yana)
Renungan yang bener2 bkin saya berfikir dan terus brfikir kang.
salam kenal
wah muncul juga ya tulisan ini… kira2 aku sudah cukup ga ya memberi makan jiwa ini….. :mmm keknya masih jauh dari kecukupan gizi jiwa…
salam kenal…
hahahah
keseimbangan itu kuncinya
Assalamualaikum
semoga kelak kita bisa menjadi pribadi yg bijak buat anak-anak kita, membimbing dan membawa mereka ke kehidupan yang baik sesuai syariat agama kita
Memandang matanya…seolah dunia ini tersenyum riang
Mas Atma …
Saya tertarik dengan point nomer tiga tentang Makanan …
Makanan melalui sistem spiritual atau keagamaan.
Yang ini juga berdampak pada emosional … hati nurani dan sebagainya …
—
Sebuah makanan yang “gratis” sebetulnya … namun entah mengapa banyak diantar kita … (mungkin saya juga) … yang enggan (atau lupa) memakannya … enggan (atau alpa) memberikan makanan tersebut kepada anak-istrinya …
sekali lagi … padahal ini gratis lho … !!!
—
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang rajin menyantap makanan yang nomer tiga itu ya Mas …
Salam saya Mas
Sungguh Tatapan yg membuat hati sejuk bila memandang matanya. mengingatkan Saya pada masa kecil, hmmm…..indahnya
setelah membaca tulisan ini timbul pertanyaan, sudahkan aku dewasa???? mudah-mudahan
Jiwa saya bisa dikatakan blm seimbang. Masih harus lebih banyak bersyukur.
ada rasa malu setelah membaca postingan ini?
bertanya dalam diri, kok saya belum merasa dewasa….
biarkan blue membacanya terus postingan dari abangku ini
berkarakter
penyegaran tuk jiwa jiwa yg menyayangi
bangga blue pada abang
salam hangat dari blue
Luar biasa Mas Atma, permenungannya menggetarkan sekali.
Kedewasaan ditandai dengan kearifan yang muncul akibat ketenangan yang dimiliki. Hanya jiwa-jiwa yang tenang (dewasa) lah yang mampu bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan gembira…
Semoga kita termasuk di dalamnya
ilmu hidup, akhlak, dan ikhlas memang rumit ya kang… ^_^
malem kang
mampir bentar boleh kan..?
Tulisannya motivatif banget.
saya jadi pengen malu
SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG LINK/BANNER GA YAH…???
http://DUTACIPTA.WORDPRESS.COM
jazakallah khoir Pak
renungan,jg setitik ilmu Nya yg Maha Luas
bwt bekal punya anak nanti jg
tulisan yang begitu sarat makna. mas Atma
ikut belajar di sini ya.
“untuk tidak lagi mengabaikan makanan bagi jiwa”
saya suka sekali kalimat ini.
kebanyakan orang mulai lupa memberi makan jiwanya.
GREAT!!
saatnya bersemangat kang
salam hangat dari blue
Assalaamu’alaikum
Apa khabar Mas Atma ? maaf kerana sudah jarang berkunjung namun tidak pernah melupakan kerana ada komitmen denga tugas sedia ada kini. Alhamdulillah di hujung minggu ini, saya cuba sedaya upaya untuk berkunjung balas.
Subhanallah wa Masya Allah. Tulisan Mas Atma di atas sungguh menyentuh dan mengesankan minda juga jiwa saya. Manusia adalah makhluk dinamik yang sentiasa berubah dari semasa ke semasa mengikut perkembangan nyawa kehidupannya.
Kerap kali kesabaran berada di peringkat kedua sesudah bertindak dalam berhadapan dengan karenah anak-anak yang cukup mencabar tingkah mereka. Anak-anak adalah amanah Allah dan dalam usia yang belum akil baligh, pasti akal mereka belum berfungsi dengan baik dan belum dapat membuat perbezaan. Manakala orang dewasa pula sering hilang pertimbangan dalam berhadapan dengan hal seperti ini kerana disebabkan pelbagai faktor yang dinyatakan oleh Mas Atma di atas.
walau bagaimana pun, di mana benih itu ditabur, akan begitulah hasil yang akan dituai. kerana itu dalam mencari jodoh, keperluan asasiah kerohanian amat dititik berat agar tidak akan berlaku kasus keganasan ke atas anak-anak dan rumahtangga yang disebabkan oleh adanya stress dan tidak meredhai segaja ujian yang didatangkan Allah dalam kehidupan yang berupa harta benda, manusia, masa dan sebagainya.
TIGA sumber masukan makanan bagi jasad dan jiwa manusia amat memberi keinsafan kepada saya untuk selalu memerhatikan yang terbaik buat hidangan dan sajian jiwa dan jasad saya. ILMU PENGETAHUAN merupakan sajian terbaik untuk jiwa dan minda kerana dengan ILMU PENGETAHUAN kita akan cekap untuk memilih makanan pertama dan kedua bagi tubuh(jasad) dan minda kita agar cergas dan cerdas.
Salam mesra selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.
Atmakusumah,
Mohon bantuan untuk isi dan promosikan kuesiner penelitian saya
http://defrimardinsyah.wordpress.com/2010/01/07/survey-online-dapat-hadiah-usb/
http://www.ebankingsurvey.com/limesurvey/index.php?sid=35685&lang=id
terima kasih
defri
Assalamu’alaikum mas atma….
yukk asup makanan yg banyak n bergizi untuk jiwa biar tetep sehat
Semoga Qt termasuk dalam gol. org yg saleh dan pandai2 bersyukur… AMIIIIN.
jadi semakin optimis dan lebih bersyukur..
salam hangat selalu
semangat semangat y
salam hangat dari blue
Jiwa yang dewasa…
hmm.. siapa yang memilikinya…
apakah aku atau kita udah memilikinya
sepertinya tidak mudah mendewasakan jiwa
slama ego atau nafsu masih mendominasi…
jiwa akan tetap menjadi kanak-kanak…
ingin sekali mendewasakan jiwa
entah gimana caranya
yg penting ada niat yang besar
Mas, tadi saya dinasehatin, bahwa saya seperti anak kecil yang ngejar permen.. Saya jadi berfikir, mungkin memang benar, semoga saya bisa memperbaiki. Makanya saya tertarik dengan tulisan Mas ini, terima kasih. Mungkin belajar dan memahami lebih mudah, tapi mempraktekkan dan melatih diri agaknya butuh perjuangan.
Jasad kita setelah mati dan hancur, nantinya akan dibangkitkan diciptakan kembali oleh ALLAH di akhirat. Semoga saat itu kita termasuk orang-orang yang selamat. Wallahulmusta’an.
aamiin, Terima kasih Mas Atma.. doakan saya yah
semoga ALLAH menjaga Mas Atma.
Perenungan yang dalam Mas… terima kasih sudah berbagi dengan kita semua… salam kenal…
*merenung*
indah suka tulisan ini… sampe speechless
hehe,walaupun belum pernah baca ini,tapi isinya kurang lebih sama ya mas?? hihi…
kalau kata ustad saya makanan ada tiga :
makanan fisik itu makan dan minum ;
makanan buat akal itu ilmu ;
dan makanan buat jiwa itu ibadah
semoga jiwa kita makin dewasa ya mas,sampai bertemu Allah kembali dalam kedewasaannya kelak
website ini bagus….kalau bisa sih…setiap hari ada penambahan….!!!biar banyak yang liat saya bantu publikasikan
aslm. ikut menambahkan saja dari apa yang pernah saya dapat dari pengajian yg pernah diikuti bahwa tiga hal dasar yang jadi kebutuhan manusia utk bisa jadi dewasa secara seimbang adalah: jasad, dengan asupan makanan yang halal dan thoyyib, pikiran, dengan segala hal yang bisa mengasah berpikir logis dan analitis, dan yang terakhir jiwa, dengan ibadah dan kajian yang terus menerus ttg ayat2 Allah yang kauliyah dan kauniyah. mudah2n bisa menyempurnakan. syukron
Ruh,Jiwa,dan Jasad
ruh setelah kitq melepaskn jasad ada pertanggung jawaban dialam akhirat
dimana letak jiwa sangatsikni fikqn kita untuk menganalisa.jiwa merupakan kehidupan
dalam kurun waktu kehidupan antara jasad
dan ruh bersatu,.contoh ada seseorang mengalami sakit yang mengalami sakit itu bukan ruhnya..tetapi jiwanya.
Ikut menyimak aja dulu