Memperhatikan Kesalahan Kecil
“hal yang paling saya takutkan dalam pendakian, bukanlah bongkahan batu karang yang berukuran besar namun mudah dihindari agar bisa selamat, tetapi justru adalah sebutir kerikil pasir kecil yang masuk kedalam sela-sela jari kaki selama mendaki yang mengakibatkan kaki menjadi infeksi dan si pendaki gagal dalam mendaki”
~Sir Edmund Hillary~
Pendaki dan Penakluk Mount Everest
Kemarin Pagi saya ada pertemuan dengan team kecil, dimana selama ini saya bekerja, sebetulnya itu hanya evaluasi rutin saja. Tapi pagi itu pertemuan agak tegang dan lain dari biasanya, karena secara dadakan masing-masing orang mengeluarkan unek-unek masing-masing, entah karena momen akhir tahun, atau karena selama setahun ini rasa unek-unek itu sudah semakin mendesak ingin dikeluarkan.
Unek-unek yang dikeluarkan umumnya seputar, tidak ada disiplin dan aturan yang tegas dalam masalah waktu, ada yang datang terlambat dalam beberapa kegiatan…Overlapping Job desk, yang dipahami sebagai penyerobotan wilayah kerja masing-masing, padahal tugas sendirinya belum tentu beres juga.
Ada yang katanya egois…
Ada juga yang curhat, karena pernah merasa tersinggung gara-gara celatakan celetukan sesama teman…
Macem-macem yang dibicarakan pagi itu…
Setelah semua unek-unek keluar, ploong…
Suasana menjadi cair kembali…
Selanjutnya tentu membahas jalan keluarnya bagaimana…
Intinya, hari kemarin saya memperoleh pesan singkat “perhatikan Kesalahan-Kesalahan Kecil”
Team Building bisa terbentuk Karena adanya kekompakan yang selalu dijaga, meminimalisir Kesalahan kecil juga akan menjaga Team Spirit yang pastinya berdampak positif kepada Team Work…harapannya akan terbentuk satu unit kerja yang harmonis dan saling menguatkan…
Idealismenya kira-kira begitu…
, paling tidak jadi agenda yang harus diperhatikan kami semua.
Curhatnya dah selesai…??
Belum ternyata
Setelah berkontemplasi sejenak,
Catatan Curhat saya di atas adalah Hubungan sesama manusia, nah kalau Hubungan Manusia dengan Allah ?
Kesalahan kecil ini, Mungkin lebih tepat disebut dosa kecil jika sudah memasuki ranah transendental…
Banyak sekali dosa kecil yang sehari-hari kita temui, paling tidak beberapa hal yang sering saya rasakan, dalam hal ini saya hanya bisa mengatakan apa yang saya rasakan, dan biasanya hal ini kita sadari dalam hati kecil kita, dengan beberapa ciri, Kadang kita anggap remeh dosa-dosa kecil ini, mungkin karena merasa bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga pada akhirnya lama kelamaan tidak terasa semakin menumpuk. Dan menjadi makin terbiasa, apalagi kalau sampai kita bangga melakukannya…Astagfirullah…
Sahabat Rasulullah Abdullah Ibnu Mas’ud Ra. Berkata :
“Sesungguhnya seorang mu’min, ia melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk dibawah gunung, ia takut kalau gunung itu jatuh menimpanya. Dan sesungguhnya seorang fajir (yang banyak berbuat dosa) melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya maka ia berbuat demikian menggerakkan tangannya maka ia mengusirnya.”
Ini berarti sebuah peringatan bahwa kita tidak bisa menganggap remeh dosa-dosa kecil…
Suatu waktu saya pernah mendengar seorang penceramah di TV, mengatakan bahwa “dosa-dosa kecil itu jika di ibaratkan debu yang menempel di kaca mobil, semakin lama semakin menumpuk, maka akan semakin tebal dan tidak mampu lagi dihapus oleh Wiper (pembersih kaca mobil) dan akan mengakibatkan pandangan kita menjadi gelap…
Hemm, berarti kalau dosa itu menempel dihati kita, semakin lama semakin menumpuk, butalah mata hati kita…Naudzubillah…
Nah, kadangkala, ketika fokus dengan hal-hal yang besar, kita menjadi lalai dengan hal-hal yang kecil, ketika kita menghindari kesalahan dan dosa-dosa besar, kita lalai dalam memperhatikan yang kecil…
Tentunya, dengan menjaga ibadah kita, menegakkan amal baik, dan senantiasa bertaubat, selalu beristigfar kepada-Nya, juga memperbanyak Dzikrullah dan Mengingat-Nya dalam setiap keadaan, ini satu upaya kita untuk menghapus debu-debu yang melekat, seperti kang Ebiet bilang
. jika upaya itu terus menerus kita lakukan, Insya Allah, seperti apapun bentuk kesalahan dan dosa itu, hati kita pasti bisa merasakannya, dan tidak lalai dalam menghindarinya.
Mudah-mudahan tulisan ini tidak menjadi prematur, apalagi sampai menggurui, karena ini sebuah perenungan bagi diri, selama setahun ini, berapa banyak tumpukan itu yang harus segera dibersihkan…
Dalam hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan kita dengan Maha Pencipta, kesalahan atau dosa, sekecil apapun tetaplah sebuah kesalahan, setiap kita lakukan, pasti selalu ada konsekuensinya…
So, jangan pernah memandang besar atau kecilnya hal tersebut, tapi Lihatlah kepada siapa kita melakukannya…
Untuk Saya Renungkan…
Untuk Kita Renungkan (Ebiet G Ade)
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam bathin, Tengoklah kedalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat,…singkirkan debu yang masih melekat
…
Anugrah dan bencana adalah kehendak-Nya, Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil, Agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya,…adalah Dia di atas segalanya
Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman hanya, satu isyarat bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan masih banyak tangan Yang tega berbuat nista
…
Tuhan pasti telah memperhitungkan, Amal dan dosa yang kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi, Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yg bakal bisa menjawab, Mari hanya tunduk sujud pada-Nya
…
Kita mesti berjuang memerangi diri, Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada disini didalam jiwa ini
Berusahalah agar dia tersenyum
… berusalah agar dia tersenyum
Lagu Ebiet G Ade dalam Album “Untuk Kita Renungkan”, saya temukan ketika akan bersih-bersih harddisk yang mulai kegemukan…Kangen dengan lagunya, saya putar lagu tsb, kalau mau denger dari sini saja ya…
Sore tadi hujan diluar jendela kamar, menambah dalam rasa ini memaknai pesan dalam lagu ini , ketika saya putar ulang beberapa kali lagu tsb…
Hari ini, setahun yang lalu saya mulai memberanikan diri menulis dalam Blog ini, tak banyak tulisan yang saya torehkan dalam blog ini, hanya beberapa tulisan yang bisa dihitung dengan jari yang saya tapakkan diBlog ini…
Dalam satu Tahun ini, memang beberapa lama saya sempat tidak mengunjungi blog ini, tidak menulis, hal tersebut karena masalah teknis yang saya hadapi, yang sama sekali tak bias akses ke dunia maya…
Namun belakangan, beberapa hari ini, ketika akan memulai menggali lagi insprasi, membangkitkan motivasi lagi menulis, saya mulai berkeliling mencari motivasi, menggali inspirasi…tapi ternyata tetap belum mampu membangkitkan diri ini untuk menulis lagi…pikiran saya menjadi tidak fokus, entah apa yang salah…
Jawabannya ternyata sore ini saya temukan, setelah kesana kemari saya mencari motivasi diluar diri ini, namun ternyata setelah saya renungkan…ketika awal menulis, saya ingin menuliskan apa yang saya alami, saya lakukan, saya perbuat dan saya lihat dalam hidup ini, juga ada keinginan untuk berbagi…
Saya ingat sebuah nasihat “selaraskanlah Tekad kita, Ucap kita dan perbuatan kita…” kalau kita ingin menjadi pribadi yang Ihsan…
Ini mungkin yang saya rasakan, akhirnya, Blog ini adalah sebuah catatan diri, yang bisa saya jadikan cermin, menuangkan apa yang ada dalam pikiran, mencurahkan apa yang ada dalam rasa…dan berusaha menjalankan dengan konsisten, nasihat yang saya tulis bagi diri sendiri ini…
Bismillah, malam ini saya ingin silaturahmi lagi, mengunjungi kawan-kawan yang selama ini berbagi, yang lama saya tidak kunjungi…
Mudah-mudahan, inspirasi yang muncul, tidak lagi menjadi tumpukan Draft dalam dashboard Blog ini, iya beberapa tulisan hanya menjadi draft yang tidak utuh menjadi sebuah tulisan, terakhir tulisan tentang “Ibu” yang ingin saya buat pun hanya menjadi wacana saja dalam inspirasi saya…
Mudah-mudahan saya mampu menjadikan Blog ini sebagai Cermin bagi diri ini…
Hemm…Tulisan ini nyambung gak ya ? (hah…EGP, yang penting bisa nulis lagi…)
*Langsung Klik Publish Jangan sampai berubah pikiran
*
Mentari Pagi
Sudah beberapa hari ini, Mentari Pagi seperti enggan bersinar, Setelah sempat digelayuti mendung, dan hari ini kembali Mentari bersinar kembali…
Entah kenapa, tapi bagi saya, cahaya Mentari di pagi hari, seolah memberikan semangat untuk memulai aktifitas hari yang akan saya jalani, mungkin karena pergantian dari malam yang gelap menuju terangnya siang hari seolah menyimbolkan sebuah harapan yang kita harapkan dalam gelapnya malam. Tapi memang terasa betul ketika mendung menggelayut di pagi hari, seolah ada rasa enggan untuk memulai hari dengan setumpuk pekerjaan. Walau bagaimanapun, saya harus tetap bersyukur, masih diberikan nafas oleh yang Maha Kuasa, masih diberi kesempatan untuk berusaha berbuat lebih baik lagi.
Bicara tentang Mentari pagi, saya teringat sebuah Yayasan di Bandung, Yayasan Syamsi Dhuha. Dua penggalan kata yang diambil dari nama surat di dalam Al-Qur’an As Syams dan Ad Dhuha, As Syams yang artinya Matahari, dan Ad Dhuha yang artinya disepakati oleh para Mufassir sebagai “waktu ketika matahari naik sepenggalan di waktu pagi.”
Sebuah Yayasan yang dalam profilnya disebutkan”Yayasan Syamsi Dhuha lahir dari ungkapan kasih dan karunia Yang Maha Pengasih yang tidak terduga akan datang melalui “musibah” sakit. Sakit yang sering dianggap sebagai musibah, ternyata juga merupakan suatu ungkapan rasa kasih sayang dari Yang Maha Penyayang dalam bentuk yang lain.“
Musibah sakit…Ya, memang Yayasan ini memang didirikan untuk Para ODAPUS (Orang Dengan Lupus), dalam kumpulan catatannya, Dr. Rachmat Gunadi (dokter pemerhati LUPUS), Menjelaskan bahwaLUPUS atau SLE (Systemic Lupus Erythematosus),
adalah penyakit sistem imunitas dimana jaringan di dalam tubuh dianggap benda asing sehingga timbul reaksi sistem imunitas yang dapat mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot dan tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru dan lapisan pada paru-paru, hati dan sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.
Penting Juga untuk dibaca lebih lengkap mengenai Informasi Penyakit LUPUS ini, karena seperti dikatakan Dr. Rachmat Gunadi, “Penyakit lupus atau lengkapnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit yang mungkin kurang dikenal masyarakat awam, orang hanya mengenal jika terdapat keluhan nyeri sendi, beranggapan hal tersebut adalah sakit reumatik dan cara mengatasinyapun kadang dengan memakai obat-obatan sendiri tanpa berkonsultasi dahulu kepada dokter.”
Ketidaktahuan tentang Penyakit ini, Itu juga yang saya alami ketika penyakit ini menimpa adik saya. Saat ini Informasi tentang LUPUS sudah banyak disampaikan di Media Cetak, Elektronik, ataupun melalui artikel-artikel di internet. Namun memang tidak ada salahnya, kita bagikan lagi informasi ini kepada orang-orang yang masih awam dengan LUPUS.
Orang-orang yang menginspirasi
Keingintahuan tentang LUPUS inilah yang mempertemukan saya dengan sosok yang luar biasa, namanya Ibu Dian Syarief, dalam sebuah seminar di RS Hasan Sadikin Bandung pada pertengahan tahun 2004 lalu. Ketika berbicara di seminar itu, pandangannya ke arah audiens selama berbicara dalam seminar itu, tidak menyiratkan bahwa penglihatannya ternyata hanya tinggal 5 %, sungguh rasa percaya diri yang kuat dari sosok yang menginspirasi banyak ODAPUS ini. Ibu Dian Syarief adalah salah satu Penggagas berdirinya Yayayasan Syamsi Dhuha, dimana ia duduk sebagai Ketua, membaca sosok perjuangannya, membuat saya merasa menjadi orang yang belum bisa berbuat banyak bagi banyak orang. Pernah saya berbicara dengannya di telpon, suaranya yang menenangkan, menjanjikan untuk menengok adik saya di RS, dan kemudian menghadiahi sebuah buku kepada adik saya, buku tentang Renungan Kalbu, sebuah buku yang sarat hikmah. Ibu Dian dan Pak Eko Pratomo (Suami Ibu Dian), digambarkan sebagai sosok The Inspiring Couple, seorang Relawan SDF (Syamsi Dhuha Foundation) mengambarkan sosok keduanya dalam blog pribadinya.
Mbak Tini, nama lengkapnya Agustini Suciningtyas, sosok yang baru saya kenal dari Group SDF, sangat rajin sekali menyemangati sahabat -sahabat ODAPUS. Mbak Tini, adalah salah seorang penulis Buku, “cinta Membuatku Bangkit, Saat Lupus Berbuah Hikmah“, semangatnya dalam menulis dan berbagi, saya akui luar biasa, dibandingkan saya yang kadang kendor-kenceng dalam menulis
. Dia sangat menginspirasi saya, ketika dalam sakitnya ia masih mampu berbagi dengan yang lain, dalam sakitnya, bukan keluhan yang diucapkannya, tapi doa-doa dan dzikrullah yang disampaikannya kepada Illahi Rabb, doa yang senantiasa menghiasi “wall” saya yang hingar biangar dengan banyak keluhan manusia-manusia lain yang masih diberi nikmat sehat. tulisan-tulisan singkatnya tentang Batpoh dan Raping, senantiasa menyejukkan hati dan membuat saya tersenyum dengan keceriaannya. Saya yakin mba Tini akan menjadi Penulis Hebat dan sukses, Amin…
Dewi Nastiti, seorang yang kembali membuat saya merasa tertinggal dalam berbagi, saat ini bekerja sebagai seorang peneliti bahasa di Lombok NTB, profilnya pernah dimuat dalam Salah Satu Tabloid Nasional. Ketulusannya dalam berbagi dan menyemangati sahabat-sahabat ODAPUSnya, sangat menginspirasi sekali. Kenapa saya katakan merasa tertinggal, ini terkait dengan keinginan saya Lima tahun yang lalu, untuk ikut berpartisipasi dalam SDF, namun jarak dan kondisi saya yang harus jauh dari Bandung, membuat sayamengurungkan niat tersebut, namun setalah mengetahui sosok Mbak dewi ini, Tinggal di Lombok, jauh dari keluarganya di Jakarta, tidak mengahalanginya untuk berpartisipasi dalam Yayasan Syamsi Dhuha, banyak hal yang sudah disumbangkannya. Tulisan sederhana ini, saya persembahkan untuk menyambut ajakannya dalam menulis. Wish You All The Best…
Madha…seorang sahabat dari SMA, lama tidak pernah bertemu, akhirnya saya bertemu lagi dengannya, walau di dunia maya, tapi ceritanya tentang LUPUS yang dialaminya, sejak 14 yahun yang lalu (huff…bukan waktu yang sebentar ya nda…
), membuat hati ini miris, ketika harus EBTANAS di Rumah Sakit, sampai akhirnya baru berhenti minum obat 3 Bulan yang Lalu. Kini kebahagiaan dengan Suami tercinta dan 2 orang putra dan putri terkasihnya, sebuah nikmat yang tak terhingga yang kamu dapatkan nda…You are the other Inspiring Couple…
My litle sist…Sikap yang Mandiri, teguh dalam berpendirian, menguatkan saya dan keluarga, bahwa dalam kelemahannya justru tersimpan kekuatan yang kami orang-orang yang “masih sehat”pun tidak menyadarinya, selalu tidak ingin diperlakukan sebagai orang yang sakit, aku tahu sist… doamu selalu minta dikuatkan oleh-Nya, kemandirian yang kamu bangun, ternyata menyadarkan Kami, bahwa disaat terjatuh, kamu ingin bangkit sendiri tanpa menjadi lemah, sosok yang mematahakan “Diskriminasi dan Dominasi” orang-orang sehat terhadap para ODAPUS. Love You..
Tentunya banyak sekali Sosok yang yang menginspirasi dalam ujian sakitnya, saya tak mungkin menuliskannya semua disini…
LUPUS, yang dilambangkan dengan Kupu-Kupu, mengingatkan kita tentang Binatang Indah Ciptaan Allah itu, yang hidupnya singkat, walau hanya 7 hari, namun telah mampu berbuat banyak dalam lingkungannya, menebarkan keindahan dan kehidupan di Taman Bunga. Begitu pula para ODAPUS, hidup kita semua sebenarnya sama-sama singkat, namun kalian sudah beterbangan kesana kemari, membagi hikmah dalam Taman Kehidupan ini, dalam siang yang kadang harus menghindari paparan Sinar Mentari, namun di malam gelap justru kalian, bersimpuh dihadapan-Nya, mencari Cahaya dalam gelapnya kehidupan ini….
Ketika Ujian Sakit Berbuah Hikmah
Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa Allah menyanyangi hamba-Nya tidak melulu dengan kenikmatan duniawai yang kadang melenakan kita. Ujian sakit ternyata adalah bentuk dari kasih sayang-Nya kepada Hamba-Nya agar senantiasa selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Sakit, apapun itu, LUPUS, KANKER, AIDS, atapun jenis penyakit lainnya, kita tidak bisa memungkiri bahwa itu datang dari yang Maha Kuasa, apakah karena kita sedang di uji untuk diingatkan, ataupun akibat dari perilaku kita yang juga lalai dalam Mengingat-Nya. Namun perlu kita sadari dan renungkan Bahwa,
- Dengan sakit, orang akan lebih paham tentang arti dari perjalanan hidup yang singkat ini
- Selayaknya kita yang masih diberikan Nikmat Kesehatan, harus senantiasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya
- Bahwa Rejeki itu senantiasa bukan dalm bentuk Materi saja, Sehat adalah rejeki yang tidak boleh kita lupakan, bersyukur dan berbuat lebih baik bagi diri dalam menjaga amanah yang diberikan-Nya
- Sakit tidak pandang bulu, kepada yang kaya, miskin, rupawan atau siapapun manusianya dalam status sosial, apakah pejabat, artis bahkan buruh kecil sekalipun. inilah yang harus kita pahami bahwa, dengan kebijakan dari Pemerintah dan perhatiannya terhadap orang-orang yang kurang ampu harus sangat diperhatikan. sebagai contoh, untuk penyakit LUPUS saja, biaya normal pengobatan yang harus dijalani bisa sampai 10.000 USD dalam setahun, belum biaya-biaya lainnya.
- Pendekatan Agama, dan rasa empati sosial dari masyarakat seharusnya menguatkan mereka yang Sakit, tidak lagi adanya Diskriminasi terhadap mereka, dan seharusnya, bukan sikap antipati kita untuk penyakit menular seperti AIDS yang kita munculkan, tapi justru menggali lebih banyak tentang hal tersebut, bagaimana menghindarinya, bagaimana mencegahnya dalam lingkungan sekitar kita.
- Mereka yang sakit, akan lebih memaknai Kematian sebagai sebuah Kepastian Illahi yang akan terjadi kapanpun dimanapun, sehingga keyakinan itulah yang menguatkan mereka untuk berbuat lebih baik, berbagi dengan sesamanya, tak ada lagi rasa takut dalam mengahadpi kepastian hari kematian. Sebuah Pencapaian rasa dan keyakinan yang kadang sulit ditemui pada orang-orang masih diberikan nikmat Sehat
- Masih tentang Rejeki, kemudahan yang didapat orang sakit, sekecil apapun, selalu disyukurinya. hal-hal yang luput dari pandangan banyak orang, kemudahan dalam beberapa hal yang kita semua alami, adalah sebuah rejeki juga…
- Mereka yang sakit, adalah orang-orang yang sukses dalam mengendalikan diri dan jiwa mereka, bagaimana mengatasi keterbatasan, memanage stress agar penyakitnya tidak kambuh, bagaimana berbuat lebih baik bagi banyak orang dalam kekurangannya.
- Pahlawan, saya menyebutnya seperti itu. karena, bukankah Pahlawan adalah gambaran sosok yang membebaskan ? mereka lah orang-orang dengan ujian sakitnya, membebaskan diri mereka dari rasa takut akan kematian, dari rasa keterbatasan, menerima kepasrahan ujian dari Illahi, dalu berbagi dan membebaskan jiwa-jiwa yang lain dalam hidupnya, menginspirasi banyak orang dengan buah karyanya.
- Banyak orang sukses, yang justru terinspirasi dari orang sakit, yang saya pernah tahu adalah Aa Gym, yang terinspirasi oleh adiknya.
- dari profil syamsi dhuha “Kedepan, Syamsi Dhuha memiliki cita2 yang lebih besar. Sesuai misinya : “sebagai sarana ladang amal untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat”, Syamsi Dhuha bercita-cita untuk memberikan kesempatan pada semua orang, bukan hanya bagiODAPUS, untuk mensyukuri segala karunia yang telah Allah berikan dengan melakukan berbagai aktifitas yang dapat bermanfaat bagi dirinya sebagai pribadi sekaligus juga bagi orang lain.”
- Bertawakal kepada Allah, setelah upaya maksimal dalam rangka untuk kesembuhan, dilakukan secara maksimal oleh mereka, dan kemudian berserah diri kepada Allah. karena tak ada Tawakal yang dilandasi rasa putus asa tanpa berusaha terlebih dahulu, inilah sikap yang harus juga kita pelajari dari orang-orang yang di beri ujian sakit.
- Kesabaran, bagi mereka, adalah sebuah perilaku, bukan lagi sebuah wacana. Dan Perlu diingat, bahwa Sabar adalah amalan yang pahalanya tidak terbatas. Subhanallah…
Jadi, tunggu apalagi ? apa yang menahan kita lagi dalam bersyukur kepada-Nya, mengapa tidak kita rubah sebuah keluhan menjadi sebuah doa dan ungkapan kecintaan kita kepada-Nya.
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy Syams 91 : 1-15)
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. . Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS Ad Dhuha 93 : 1-11)
93:2. dan demi malam apabila telah sunyi,
93:3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,
93:4. dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.
93:5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
93:6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.
93:7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
93:8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
93:9. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
93:10. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.
93:11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
NASIHAT BAIK
“Siapa yang memberi nasihat dengan memandang dirinya baik, maka dia akan berdiam diri apabila berbuat kesalahan. Dan siapa yang memberi nasihat, karena memandang (apa yang ia ucapkan) sebagai kebaikan dari Allah untuk dirinya, maka dia tidak berdiam diri apabila berbuat kesalahan.”
Nasihat sebenarnya bisa diberikan oleh siapa saja kepada siapapun dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan menghindari kesalahan, bisa berupa mengajak kepada kebaikan atau saling mengingatkan. Nasihat tidak selalu disampaikan dalam bentuk ceramah, dan juga tidak selalu harus disampaikan oleh seorang Ulama atau seorang Kiayi dan tidak harus selalu disampaikan dalam sebuah forum keaagamaan.
Dari Abi Huroiroh dari Rosulillahi sholallohu ‘alaihi wa salam bersabda,
“sesungguhnya agama itu nasihat , sesungguhnya agama itu nasihat , sesungguhnya agama itu nasihat“, mereka (shahabat) bertanya siapa yang berhak nasihat ya Rosulalloh ? bersabda (Nabi) “Bagi Alloh dan bagi kitabnya Alloh, dan bagi utusannya dan bagi imamnya orang muslim dan bagi umumnya muslim“
Memberi nasihat untuk dijadikan mauizatun hasanah (teladan baik) dalam rangka mengajak kepada kebaikan sesama hamba Allah adalah perbuatan yang Utama. Akan tetapi memberi nasihat karena merasa diri kita adalah orang baik, berilmu dan saleh, adalah perbuatan yang kurang baik. karena, apabila suatu waktu ia tergelincir kedalam perbuatan jelek atau salah menyampaikan nasihat, maka akan tumbuh perasaan malu karena bersalah, yang menyebabkan ia akan bersikap diam atau tidak lagi memberi pelajaran atau nasihat-nasihat.
Akan tetapi apabila nasihat yang dijalankan dan pelajaran yang disampaikan didasarkan karena wajib menyampaikan ajaran Allah, atau karena apa yang ia sampaikan adalah karunia dan rahmat serta izin Allah semata, maka ketika ia khilaf karena tergelincir lidah atau salah ucapan, atau sikap yang tidak pada tempatnya, atau berbuat suatu kesalahan di mata masyarakat, ia tidak merasa malu, serta terus menyampaikan ajaran dan nasihat. Ia tidak berhenti, karena yang ia sampaikan adalah ajaran yang benar, dan karena izin rahmat Allah untuknya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengajak kepada kebaikan…
- Sampaikan nasihat atau ajakan kepada kebaikan dengan hati yang tulus ikhlash, semata-mata karena Allah.
- Berniatlah dalam hati bahwa ajakan yang ia laksanakan semata-mata melaksanakan kewajiban yang diizinkan Allah dalam rangka dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar.
- Hindarkan perasaan dari dalam hati, bahwasanya apa yang disampaikan dan nasihat yang diberikan, adalah karena kepandaian dirinya sendiri, kecakapan dirinya sendiri, kecakapan pembicaraannya sendiri, atau ilmu yang ia kuasai. Perasaan seperti ini akan melahirkan rasa angkuh, kemudian bersifat riya’, yang akan merusak hati dan amal ibadah kita.
- Kekokohan tekad di dalam jiwa, bahwasanya nasihat dan tabligh yang akan disampaikan dan yang telah disampaikan, banyak atau sedikit karena ingin mencari Ridha Allah semata, melalui jihad dakwah yang terpikul dipundaknya.
- Buatlah sebuah rencana atau cara penyampaian melalui pendekatan yang efektif, sesuai dengan kemampuan masing-masing, agar apa yang disampaikan diterima oleh Masyarakat, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
- Hendaknya apa yang disampaikan, sudah dipahami dan dihayati, dan jika belum dipahami dengan benar mengenai apa yang akan disampaikan, hendaknya dipelajari terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh.
- Semata-mata apa yang disampaikan, baik berupa nasihat atau ajakan, hendaklah sudah dijalankan terlebih dahulu atau ia sedang menjalankan apa yang disampaikannya, dengan maksud bersama-sama mencari kebaikan di Jalan Allah.
- Selalu meminta petunjuk kepada Allah Swt.
Dengan nasihat dan ajakan kepada kebaikan, seseorang dapat berubah dari yang tidak paham menjadi paham, dari yang lupa menjadi ingat, dari salah menjadi sadar Karena diingatkan dan dari tidak baik menjadi baik. Tentunya semua itu tidak terlepas dari Kehendak Allah Swt, karena upaya kita hanyalah sebatas dalam mengajak atau saling menasehati, selebihnya untuk urusan hati dan apakah orang yang diajak menerima atau tidak, tergantung daripada upaya orang yang diajak tersebut apakah menerima, atau menolaknya, karena, hanyalah Allah Yang Maha Kuasa dan membolak-balikkan hati manusia.
Blog, situs pertemanan, ataupun media-media yang dikonsumsi oleh khalayak ramai, dapat juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan ajakan dalam kebaikan dan saling mengingatkan sesama saudara muslim.
Sebagaimana peringatan dari Alloh SWT dalam QS Al-‘Asr (103) 1-3 “
“Demi waktu ‘asr sesungguhnya manusia niscaya dalam keadaan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal sholih dan saling wasiat (nasihat) untuk menetapi barang hak , dan saling berwasiat dengan kesobaran.”
Hap…Hap…Lalu ditangkap…
Lagi Buat Kategori Baru…
Ini Cicak

Cicak
gambarnya dari sini
Ini Buaya

Buaya
Gambarnya dari sini
Kalau kita amati... Read more…
Take a Breath…Long, Deep and Slowly…
Nafas…
Sebuah Perenungan atas Diri…
Ketika membaca sebuah tulisan tentang nafas, (makasih ya kang
), saya merasa ternyata selama perjalanan hidup ini betapa belum seimbangnya antara rasa syukur yang saya berikan kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya…
Nafas, sebuah keagungan karya Illahi. Dalam penciptaan nafas yang begitu rumit sistemnya, dan tak ada satupun Ilmuwan di Muka Bumi ini yang mampu mengurai hasil karya-Nya. Bayangkan, setiap satu persatu bagian dari sistem di dalam saluran pernafasan kita, bekerja sesuai tugasnya masing-masing, tanpa pernah berhenti, 24 jam sehari…saat kita tertidur sekalipun, sistem pernafasan tak pernah berhenti bekerja. Oksigen yang dibawa oleh hirupan nafas kita, masuk ke dalam tubuh kita hingga sel-sel terkecil dalam tubuh kita, Subhanallah… Read more…
Hitam Putih Cinta
CINTA BISA HITAM BISA PUTIH…

Tentang hubungan antar Insan. Menurut apa yang dilihat, pernah dirasakan, lalu menurut sebagian orang…
| Cinta Menjadi Hitam… | Cinta Menjadi Putih… |
|
|
(Yang mau tambah…di komentar aja…
) Read more…
MENERAPKAN FITUR S.M.A.R.T DALAM DIRI KITA
Pernah dengar tentang fitur S.M.A.R.T ?
S.M.A.R.T atau Self-Monitoring Analisys, Reporting Technology adalah fitur yang sudah terintegrasi dengan banyak HDD (Hardisk Drive) yang ada saat ini. Fitur tersebut berfungsi untuk mengontrol atau memperingatkan apabila terjadi kerusakan pada HDD dalam komputer kita, sehingga menjadi alat deteksi dini, untuk menghindari HDD dari kerusakan yang fatal, seperti Bad Sector, yang akan mengakibatkan kita akan kehilangan data-data penting dalam HDD yang kita miliki.
Apa hubungannya dengan diri kita ?
Tidak benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat melemahkan semangat hidup
Ini adalah pendapat saya dengan merujuk kepada apa yang saya yakini dan saya rasakan, mengenai tulisan Apakah Benar Banyak Mengingat Allah dan Kehidupan Akhirat akan melemahkan semangat hidup ?
(1). Dengan banyak mengingat Tuhan, manusia akan sulit berkembang dan bersinergi dengan kemajuan zaman yang semakin modern, dan terjebak dalam nilai-nilai transendental yang abstrak.
Semua Manusia dan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini, tidak ada dengan sendirinya, begitu pula dengan Alam Semesta ini. Logika manusia yang berlandaskan kepada akal pikiran semata, tidak akan sanggup menjangkau asal muasal dan penciptaan semuanya. Sebagai seorang Muslim, tentunya kita mengimani kepada Kitab-kitab yang yang telah diturunkan, dan Al-Qur’an adalah sebagai Kitab yang diturunkan untuk seluruh Umat Manusia sebagai Kitab terakhir hingga akhir zaman. Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai penciptaan Manusia : Read more…












Komentar Terakhir